Archive | July 2008

PRK : Demi menjadi calon

Bismillahirrahmanirrahim.

ALHAMDULLILAH, setelah sekian lama tidak membuka IMS UPSI portal, saya terpanggil untuk menjengah sebentar memandangkan ingin melihat isu-isu yang menjadi bahan bualan di kampus kesayangan rakyat. Dan apabila headlines news 23 July 2008, mengeluarkan tajuk syarat-syarat kelayakan sebagai calon pemilihan MPP 08/09 ianya menarik minat saya untuk meng’click’ bagi melihat kandungan di dalamnya.

Berikut adalah syarat-syarat yang telah diletakkan oleh Suruhanjaya Pilihanraya UPSI yang diketuai ketua SPR ialah ayahanda kesayangan rakyat TNC HEPA Prof Syah. Saya tulis semula untuk sama-sama kita menilai aspek kelayakan yang diinginkan.

1. Sedang mengikuti program Ijazah Pertama (Sarjana Muda) secara sepenuh masa di kampus.

2. Hendaklah mempunyai baki sekurang-kurangnya 2 semester.

3. PNGK tidak kurang dari 3.00.

4. Telah menduduki peperiksaan pertamanya di UPSI bagi kursus pengajian yang diikutinya.

5. Tidak menghadapi prosiding tatatertib terhadapnya yang masih belum selesai.

6. Tidak pernah didapati bersalah dalam apa-apa jua kesalahan oleh Pihak Berkuasa Tatatertib Pelajar UPSI.

7. Masih memegang jawatan di Kolej Kediaman atau Persatuan dan Kelab sebelum hari penamaan calon.

8. Mendaftar dan mengikuti kesemua 3 siri kursus kepimpinan yang akan dianjurkan pihak JHEPA sebelum hari penamaan calon.

Respon?

Kali ini pihak universiti hanya meletakkan lapan syarat untuk menjadi YB kampus. Hipotesis awal saya mengikut matapelajaran TSP 2023 yang menjadi fouvarite saya, “semakin sedikit syarat yang diletakkan, semakin banyak rintangan yang terpaksa dihadapi calon”.

It’s only a hypothesis. It is not been tested yet. So, let us see if the hypothesis can be accepted or not in this PRK experiment.

See ya!

Adab berbicara, berdebat dan mendengar pendapat

Bismillahirrahmanirrahim.

ALHAMDULLILAH, kali ini saya berkongsi artikel segera yang diperoleh hasil pembacaan saya melalui lawan web. InsyaALLAH, semoga sama-sama kita beroleh manfaat.

1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:

“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)

6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

ADAB MENDENGAR

1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)

2. Tidak memotong/memutus pembicaraan

3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)

4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.

5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU

1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian

2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal

3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara

4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih

5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit

6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah

7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat

8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi

9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya

10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

Wacana Ilmu PMSFST UKM & PMS UPSI

Bismillahirrahmanirrahim

ALHAMDULLILAH, dengan hidayah dan kekuatan yang diberikan ALLAH kepada saya dan rakan-rakan, Persatuan Mahasiswa Sains UPSI telah mengadakan lawatan ilmiah ke UKM bagi melawat Persatuan Mahasiswa Sains di sana. Delegasi UPSI seramai 40 orang telah memulakan perjalanan seawal jam 8.30 pagi. Secara peribadi, saya telah lama tidak berkunjung ke UKM setelah 2 orang daripada kakak saya menamatkan pengajian di sana apatah lagi pertandingan DEBAT jarang untuk UKM menjadi tuan rumah. Jelasnya, peluang pada kali ini saya menanamkan azam untuk mendapatkan sedikit sebanyak manfaat di samping melihat pemikiran mahasiswa-mahasiswi Persatuan Mahasiswa Sains UKM.

Teringat kata-kata ustaz Anhar dalam ceramahnya “jika kita menggengam erat tangan kita menandakan keazaman yang tinggi, maka kita harus pastikan genggaman itu erat jua biarpun tamat pengajian kita”. Maka dengan sedikit inspirasi dan niat ingin menambahkan pengetahuan maka saya gagahkan diri untuk turut serta dalam delegasi PMS UPSI kali ini walaupun pada awalnya kesihatan agak kurang mengizinkan. ALHAMDULLILAH ya RABB, dengan iziNYA masih lagi diberi kekuatan.

Saya dan Persatuan Mahasiswa Sains

Kepimpinan saya dalam PMS UPSI adalah masih terlalu awal disebabkan proses peralihan kuasa bermula agak lambat iaitu pada bulan 2. PMS UPSI pada kepimpinan kali ini ingin menyuntik nafas baru kepada persatuan yang sudah lama lesu. Kalau dahulunya iainya dibiarkan sepi tanpa sebarang program dan gerak kerja, maka saya dan sahabat-sahabat berusaha seadanya untuk membaiki kelompangan-kelompangan yang telah ditinggalkan oleh kepimpinan lepas.(kadangkala tidak mampu lagi untuk ditampung). Berbeda dengan PMS UKM yang telah lama bertapak dan mempunyai kuasa besar dalam Fakulti Sains & Teknologi UKM yang mewakili 22 program (PMS UPSI hanya 3 program iaitu biologi, fizik dan kimia). Oleh kerana rekod cemerlang dalam PMS di UKM, maka dengan rasa ingin tahu inilah yang mendorong saya untuk ke sana.

Pengisian pada program tersebut yang melibatkan sesi dialog antara UKM dan UPSI memberi peluang sekali lagi kepada saya melihat kematangan dan kebijaksanaan mereka dalam mengendalikan program-program. Dan saya sendiri berpeluang mengajukan beberapa soalan yang sebenarnya saya memerlukan jawapan yang jelas kerana dengan jawapan yang diberikan besarlah harapan untuk diimplementasikan di peringkat UPSI.

Berikut soalan-soalan yang saya sempat bertanya.

1) PMS UKM memang gah dengan program-program yang dijalankan di peringkat fakulti mahupun universiti. Namun, adakah program yang berbentuk kemasyarakatan yang mana mahasiswa menyumbang kepada masyarakat luar?

2) Berhubung dengan hubungan baik yang telah dibina dengan pihak fakulti, saya ingin bertanya apakah langkah-langkah yang berkesan bagi mengurangkan karenah birokrasi yang berlaku dalam mendapat kelulusan sesuatu program?

3) Untuk exco kerohanian, adakah bentuk-bentuk program yang dijalankan bertumpu kepada pelajar muslim sahaja khususnya? dan mengabaikan kepelbagaian agama di fakulti?

4) Untuk exco kebajikan, dalam memastikan kebajikan mahasiswa terus terbela, apakah langkah-langkah yang diambil oleh exco apabila berdepan dengan isu-isu nasional seperti kenaikan harga minyak dan harga barang yang mana hasil akhirnya mahasiswa kita turut terjejas?

Dan antara jawapan-jawapan menarik yang saya boleh dikongsi bersama :

1) Untuk mengurangkan karenah birokrasi perlu hubungan baik dengan pihak pentadbiran. Sebagai contoh, PMS UKM mengadakan minum petang bersama pihak pentadbiran dan perlawanan boling bersama-sama dengan pengurusan. Saya melihat ianya suatu yang rasional namun demikian perlu difikirkan dari aspek bajet yang amat sukar diperolehi di UPSI ini.

2) Ini pula saya terima dari exco kerohanian, mereka menekankan daripada pengedaran risalah yang menyentuh semua aspek contohnya Valentine dan sebagainya. Kuiz-kuiz keagaaman juga dibuka kepada non muslim.Pandangan saya apabila menyebut sahaja kerohanian tentulah prioritynya kepada umat Islam. Dan saya kira tidak harus lagi disangkal memandangkan agama rasmi Malaysia ialah agama Islam. Namun dari segi program, harus difikirkan lagi corak-corak yang berbentuk kreatif.

3) Seterusnya jawapan daripada exco kebajikan, mereka lebih menfokuskan kepada isu masyrakat kampus sepeti kenaikan harga cafe yang disebabkan kenaikan harga minyak baru-baru ini. Sifir mudah, mahasiswa akan sedar apabila terkena pada batang hidung sendiri baru mereka rasakan kebajikan mereka perlu dijaga.
Begitu juga situasinya di kampus kesayangan saya.

Kepimpinan

Apabila melihat kepada portfolio-portfolio yang terdapat dalam kabinet PMS UKM jelas sekali mereka mengutamakan kepada keperluan semasa. Saya kagum bila melihat tidak ada biro kesenian dan kebudayaan yang mana jika dibandingkan di UPSI ianya portfolio yang boleh dikategorikan sebagai favourite. Tambah lagi mereka mempunya biro SHES yang bertindak sebagai hal ehwal siswi (ini yang sepatutnya harus ada di UPSI) memandangkan komposisi pelajar wanita 1:7. Jadi sememangnya ianya menjadi keperluan. Pucuk kepimpinan yang diterajui oleh pimpinan-pimpinan yang cukup matang dan berani kedepan. Mereka sebenarnya matang daripada usia mereka. Sempat salah seorang daripada mereka berpesan kepada saya, untuk mencipta kejayaan jangan sesekali takut melakukan perubahan. Mentaliti beginilah sebenarnya harus ada dalam jiwa pendidik apatah lagi mahasiswa-mahasiswi yang berada dalam bidang sains.

ALHAMDULLILAH. semoga kunjungan kali ini mampu memberi sedikit pengalaman dan input yang berguna kepada warga PMS UPSI sekaligus sedikit sebanyak lawatan ke UKM menjadi turning point kepada warga PMS untuk terus mengorak langkah maju ke depan. Wahu’allam

p/s : Lagi beberapa ketika saya akan meletakkan jawatan dalam PMS. Berusaha yang terbaik!

Sebening azan

Bismillahirrahmanirrahim

“Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk ALLAH, Tuhan semesta alam”.

Sewaktu bergemanya laungan azan, memanggil-manggil ke haribaan Ilahi dengan nyaring dan syahdu,

masih ada yang terlupa tentang kebesaranNYA,

leka dengan makan dan minum di meja santapan

menguyah bicara di restoran-restoran

melampias nafsu mata di gedung membeli belah

yang mana lebih besar?

menyegerakan panggilan Ilahi dengan menyahut seruan itu,

atau

menyikat mata duniawi dengan angkuh dan haloba?

hakikatnya

hanya kesementeraan

sedarlah wahai diri!

sebelum disedarkan keduniaan ini hanyalah fatamorgana jambatan ukhwawi

segeralah tinggalkan barang duniawi

dan kejarlah ukhrawi di ruang terbuka

pada peluang yang datang

selamilah makna pujian dalam syukur

memecah kesunyian mewarnai hati

pada sebening azan yang menyapa.

Ya Rabb,

HambaMU ini rindu Rahmat dan Kasih sayangMU.

Catatan Medan : Aneka juadah aneka rasa

Bismillahirrahmanirrahim.

22-26 hb Jun 2008 selesai sahaja berlalu. Namun, tidak dapat tidak, keenakan makanan disana masih lagi terasa apabila menatap semula juadah-juadah yang telah disediakan sepanjang saya serta rakan-rakan di sana. Ini tatapan kita bersama.

Muhasabah diri

Betapa banyak nikmat yang dikecapi. Betapa banyak yang disyukuri?

Catatan Medan : Mahasiswa Vokal

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, sesi kuliah pada semester ini berjalan seperti kebiasaan rutin pelajar di bumi kampus kesayangan kita. Walaupun saya telah dikenakan denda oleh Fakulti oleh kerana lambat mengambil slip peperiksaan(tiada kompromi) RM15 (Jumlah makan beberapa hari).

Saya mengambilnya dari sudut mencipta sejarah dalam diri sendiri. Biarpun beratur panjang hampir sejam di kaunter pembayaran, dengan sistem ‘breakdown’ mengundang satu RASA yang DIA sahaja yang tahu. Ketika di kaunter, pada tiba giliran saya, komputer yang mengeluarkan resit pembayaran ‘hanging’. Pegawai-pegawai disitu hanya mampu duduk diam tanpa memikirkan alternatif yang diambil dengan beranggapan komputer akan pulih seperti biasa. Setengah jam berlalu, pelajar-pelajar mulai ‘tunjuk rasa’.

Ada di antara mereka yang telah meninggalkan kelas selama 2 jam kerana menunggu giliran. ALHAMDULLILAH, selepas berlaku rundingan dan cadangan daripada saya dan beberapa pelajar lain, akhirnya mereka bersetuju untuk membuat pembayaran secara manual. Selesai masalah. Hari-hari yang berlalu biarlah meninggalkan sejarah pada diri kita. Sisa-sisa waktu di bumi kampus harus dimanfaatkan. Sejarah saya sendiri telah 2 kali didenda kerana kelewatan mengambil slip. 🙂

Itu kampus UPSI.

Menyelusuri lawatan singkat saya dan rakan-rakan mantan JMK ke Universitas Medan (melahirkan bakal guru sahaja), memberi sedikit pengajaran kepada saya untuk dikongsi bersama. Ketika di UNIMED, sesi dua hala telah dijalankan, dan saya rumuskan meraka mahasiswa (muslim dan non muslim) yang VOKAL! Vokal disini yang saya maksudkan dari segi mengutarakan pendapat dan membela nasib mahasiswa-mahasiswi mereka. Apabila menyebut pelajar indonesia tidak dapat tidak mereka akan dikaitkan dengan demonstrasi. Itulah cara mereka. Saya sempat bertanya kepada mahasiswa di sana, apakah hanya demonstrasi sahaja yang bisa menyelesaikan masalah. Nah, mereka menyenaraikan tiga kepada saya :

Bila wujud isu yang perlu diketengahkan.

Stage 1 : Adminstrasi (laporan kepada pentadbiran)

Jika tiada berjaya

Stage 2 : Delegasi (Berjumpa dengan pihak pentadbiran)

Jika masih gagal

Stage 3 : Demonstrasi (Ini merupakan langkah terakhir)

Mereka melontarkan pandangan dan rasa tidak puas hati mereka dengan cukup baik, biarpun di depan dekan mereka sendiri apatah lagi di depan Rektor (Cancelor jika tidak silap saya). Ini cara mereka. Keadaan hidup yang mendesak memaksa mereka bertindak lebih jauh. Mereka mampu mengubah sistem dengan kadar yang cepat. Mereka membawa suara mahasiswa daripada bawah ke atas dan bukannya dari pihak pentadbiran untuk dijalankan kepada mahasiswa. Masing-masing juga mempunyai sejarah masuk ke dalam tahanan polis. Situasi yang BERBEDA di tempat kita.

Saya tertarik kepada jawapan yang diberikan oleh mahasiswa di sana, apabila saya cuba memberi provokasi kepada mereka, adakah dengan mengadakan demonstrasi bisa menyelesaikan masalah tanpa menyediakan resolusi. Jawapan saya terima. Mereka menjelaskan, bahawasanya Bapak-bapak(Wakil-wakil rakyat) disana telah dibayar gaji yang cukup lumayan. Jadi tugas mereka yang harus memikirkan dan mencari resolusi setiap masalah yang diutarakan lebih-lebih lagi melibatkan demonstrasi. Mereka sememangnya VOKAL. Itu penilaian saya.

Muhasabah diri

Just wanna share this little bit experience. See how the non-muslims and muslim are ready and willing to protect our right although they know nothing what Islam is all about( if they know about Islam then then will turn to be a good muslim!)

A good reflection for us! They struggle to protect their muslim friends but have we did the same thing to protect our own brothers and sisters in Islam?? Better watch out!

“Sesiapa yang tidak peduli urusan umat Islam, dia bukan dari kalangan mereka” (Hadis)”

Sememangnya selaku muslim dan mahasiswa, implimentasi VOKAL adalah amat signifikan sesuai dengan keadaan, masa dan tempatnya. Andai kita tidak mampu mengubah semua, mungkin usaha yang kita lakukan ke arah itu, menjadi nilaian olehNYA. InsyaALLAH. Andai kita tahu tiada esok bagi kita. Wahu’alam.

See ya!

Akademi Nasyid vs Akademi Fantasia

Bismillahirrahmanirrahim

 

5hb Julai 2008. Saya berpeluang menonton akademi nasyid yang pertama kalinya selepas 2 konsert berlalu. Kali ini saya sempat menjadi juri profesional di rumah memberi penilaian kepada akademi nasyid dan pelaksanaannya. Jika dilihat, rancangan akademi nasyid merupakan satu turning point yang cukup baik dalam menyediakan platform kepada generasi muda mengasah bakat nyanyian mereka dalam versi nasihat iaitu nasyid. Adaptasi daripada rancangan akademi fantasia dan juga gengstar (ada diantaranya berkumpulan), membuatkan saya mengingati rancangan akademi fantasia ke-6 yang baru sahaja tamat.

Perjalanan konsert malam tadi, walaupun ada kekurangan disudut audio sikit tetapi tidak mencacatkan perjalanan konsert secara total. Konsert berjalan dengan lancar sekali. Stage yang digunakan oleh pelajar-pelajar tidaklah sebesar akademi fantasia, namun beberapa cubaan oleh pelajar akademi nasyid yang membuat gimik sebelum persembahan dilihat mampu memberi penonton satu kelainan. Ada yang berlakon, ada yang membawa teddy bear. 🙂

Berikut beberapa pelajar yang mengambil bahagian.

1) Ana (Pulau Pinang)
2) Eda Fadilah (Ipoh)
3) In Heart (Kuala Lumpur)
4) Muslim Voice
5) Voice of Men
6) D Vision
7) Cicik
8) Aiman
9) Syah
10) Farhan
11) Azhan

tenaga pengajar:

1) Ustaz Asri Rabbani (Penasihat)
2) Yasin Sulaiman (Pengarah Muzik)

 

 
Hafiz Hamidon sebagai pengacara

Hafiz Hamidon sebagai pengacara

Akademi nasyid menyumbangkan markah 50% daripada juri dan 50% daripada undian sms penonton. Dan, melihat kepada komen juri pada malam itu, bukan sahaja menyentuh aspek nyanyian sahaja daripada segi pitching, note dan saya sendiri kurang arif untuk menilainya, namun aspek penghayatan juga amat ditekankan.

Juri Profesional Farahin, (dahulunya membawa kepada asas kumpulan Raihan) telah memberi tips yang berguna kepada pelajar. Untuk mendapat penghayatan dalam nyanyian yang berunsur ketuhanan perlu dilakukan sedikit homework. Ini yang menarik perhatian saya. Antara tips yang diberikan kepada pelajar akdemi untuk menambah penghayatan dalam lagu ialah :

1) Mengamalkan zikrullah

2) Membaca sirah perjuangan para nabi dan sahabat

Satu kelainan yang tidak ada dalam akademi fantasia. Bukan sahaja bermakna kepada pelajar akademi malah kepada kita juga selaku penonton.

Saya kurang bersetuju dengan pakaian yang ditaja kepada pelajar akademi perempuan, yang dilihat menampakkan susuh tubuh. Aurat bukan hanya menutup rambut sahaja. Ini salah konsep. Penyampaian lagu-lagu dakwah akan lebih berkesan kepada penonton andainya penampilan penyanyi lebih sopan dan menutup aurat. Jadi, seharusnya pemilihan pakaian oleh pelajar haruslah bijak kerana mereka juga akan dilihat sebagai role model kepada penonton.

Keseluruhannya, akademi nasyid memberikan salah satu lagi pilihan kepada kita untuk memilih hiburan yang mendidik jiwa. Berhibur tiada salahnya, kerna hiburan itu indah. Namun kita yang harus bijak memilihnya. 🙂