Debat


Bismillahirrahmanirrahim

ALHAMDULILLAH

Minggu ini saya penuhi dengan pelbagai tuntutan dan tanggungjawab yang perlu dilunaskan. Alhamdullilah, tahniah saya ucapkan kepada Permas atas penganjuran Simfoni Warisan yang menawarkan pelbagai pengisian yang menarik. Sebelumnya saya sempat menghadiri Bicara tokoh bersama Profesor Khoo Khay Kim dan juga Forum bicara Addin yang mengimbau kehebatan Sultan Muhammad Al-Fateh.

Dan diantara aktiviti yang dijalankan adalah pertandingan debat kemerdekaan. Saya penuhi jemputan menjadi juri debat untuk beberapa pusingan. Jujur, melihat semangat para peserta mengimbau kembali kenangan saya menjadi peserta seawal di semester satu. Semestinya saya dipertemukan dengan senior-senior debat yang banyak mengajar saya sehinggalah berkesempatan menjadi pendebat universiti disuatu ketika dahulu.  Alhamdulillah, dan kini saya melihat junior-junior debat yang ada sememangnya lebih hebat dari saya. Moga kalian terus maju dalam arena perdebatan!

 

Bismillahirrahmanirrahim.

ALHAMDULLILAH, kali ini saya berkongsi artikel segera yang diperoleh hasil pembacaan saya melalui lawan web. InsyaALLAH, semoga sama-sama kita beroleh manfaat.

1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:

“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)

5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)

6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

ADAB MENDENGAR

1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)

2. Tidak memotong/memutus pembicaraan

3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)

4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.

5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU

1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian

2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal

3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara

4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih

5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit

6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah

7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat

8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi

9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya

10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

Entry kali ini saya klasifikasikan sebagai debat atau muhasabah?

Semua yang berlaku begitu cepat. Belum sempat saya menilai tindakan dan impak dari setiap sudut, saya telah mengambil satu lagi keputusan. Dan diharapkan keputusan yang dibuat kali ini sekali lagi semuanya di atas hidayah ALLAH. Alhamdullilah segala pujian bagi ALLAH. Saya telah menarik diri secara total dalam dunia debat.                                        

   “ Ya ALLAH, andainya perdebatan itu terbaik untuk hambaMU, maka permudahkanlah, jika tidak Ya ALLAH, Engkau sasarkanlah” 

Doa yang sering saya titipkan setiap sekali usai solat. Dan dengan segala kekuatan dan hidayah dariNYA, saya menyuarakan hasrat untuk menarik diri dalam penyertaan debat IKIM sekaligus dalam dunia perdebatan. Keputusan yang dibuat diikuti dengan satu ASBAB yang kukuh. Saya bulatkan tekad, perjalanan saya masih jauh, dan rezeki ALLAH itu sesuatu yang pasti untuk hamba-hambaNYA yang soleh.  

Begitulah manusia, dalam setiap hari menjalani rutin kehidupan, kita tidak akan pernah terlepas daripada membuat keputusan. Setiap waktu dan setiap saat yang dikurniakan olehNYA, bukan sesuatu yang wajar dipersiakan. Sesungguhnya tanggungjawab kita lebih banyak berbanding dengan waktu yang ada. Andainya kita tahu bahawasanya tiada lagi esok untuk kita, nescaya kita tidak punya masa untuk mensia-siakan kesempatan yang ada.

  Wahai diri tenanglah….Salah satu sebab mengapa saya mesti muslim dari sudut aqidah? Saya mesti bertawakal sepenuhnya kepada ALLAH dalam setiap keadaan dan menyandarkan setiap urusan kepadaNYA. Sifat tawakal inilah yang membangkitkan kekuatan zahir dan batin di dalam jiwa dan diri saya yang menyebabkan segala kepayahan dapat dihadapi dengan mudah. Saya bawakan firman ALLAH swt 

 “ Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada ALLAH nescaya ia akan memberi kecukupan kepadanya”Surah Al-Thalaq 65 : Ayat 3

 InsyaALLAH, saya tidak sekali-kali akan mengeluh dengan keputusan yang dibuat kali ini. terima kasih sahabat. Ana sayang antunna semua. Satu lagi pengalaman dunia debat! J  

“lepas exam ni, boleh ke pergi debat royal?” seorang senior memberikan tawaran kepada saya.

Jawapan yang jelas saya berikan. Keputusan yang saya telah lakukan. Cukup mudah, saya menolak untuk mewakili universiti dalam debat royal kali ini.

Akal mengatakan cukup rugi menolak tawaran kali ini. Apatah lagi debat royal debat yang paling berprestij di antara semua debat di IPTA. Bayaran untuk satu kumpulan beraksi di medan pertandingan adalah sebanyak RM 1500. Berkampung hanya 5 hari 4 malam, makanan, pakaian dan sebagainya semua ditanggung. Menang kalah bukan ukuran tapi yang penting kecerdasan minda dan ketajaman lidah mengupas usul menjadi titik penentuan kejuaraan. Melihat kepada usul-usul dalam debat kali ini sememangnya memerlukan pembacaan yang amat tinggi.
Akal bersuara lagi, andai saya menolak untuk ke debat Royal kali ini, masihkah ada peluang untuk saya beraksi?

Dan saat itu..
Iman yang sedikit mampu mengubat rasa terkilan saya. Rezeki kita semua telah ditetapkan. Dan tidak akan berkurang sedikit pun rezeki-rezeki yang dijanjikan oleh ALLAH kepada kita. Ubatnya satu. KEYAKINAN dan KEBERGANTUNGAN kepada ALLAH itulah yang kita letakkan sebagai sandaran. Saya menolak untuk pergi ke debat kali ini disebabkan komitmen yang harus diberikan kepada program yang dijalankan di kolej. YA, saya punya pilihan untuk mengecualikan diri. Tapi ada amanah yang perlu dilaksanakan. Selagi memegang wasilah sekaligus sebagai pemimpin, saya harus melihat kepada aulawiyat(keutamaan) yang harus didahulukan. Dan hasilnya saya memilih untuk ke program yang dianjurkan kolej. Semoga diri ini telah membuat keputusan yang betul.

Kita mungkin tidak dapat melihat keputusan yang diambil dan kesannya pada masa sekarang. Tapi, andainya keputusan yang kita lakukan berdasarkan niat kepada ALLAH yakinlah bahawasanya ianya akan mendatangkan natijah yang baik pada masa hadapan.

Assalamualaikum

perjuangan.jpg

Sudah lama kiranya saya meninggalkan kerja-kerja blogging ni. Kesibukan masa dengan cuti semester, bersama keluarga dan akhirnya saya kembali semula ke kolej untuk memulakan rutin-rutin kehidupan sebagai pelajar. Alhamdullilah. Sesungguhnya semua kekuatan daripada ALLAH. Kali ini saya ingin bercerita mengenai penyertaan dalam pertandingan Debat Fomca yang berlangsung pada 23-26 Jun 2007. Dengan hati yang penuh keterpaksaan pada mulanya apabila digesa untuk menyertai pertandingan tersebut akhirnya sedar tidak sedar saya sudah kembali semula ke kolej selepas berkampung bersama-sama pendebat hebat di UNITEN. Penyertaan pertama seawal pembukaan semester baru. Namun, sering kali iman saya terdetik, apabila berakhirnya debat , maka berakhir lar penipuan-penipuan yang dilakukan oleh saya sendiri di dalam debat. Sudah menjadi sifir lazim dalam pertandingan, usul yang pada mulanya merupakan yang hak, dek kerana ketajaman lidah berkata-kata, maka yang hak akan menjadi batil dan yang batil menjadi hak. Saya dihimpit rasa bersalah. Sesungguhnya ciri-ciri orang munafiq, apabila berkata dia berdusta. Na’uzubillah. Kesannya, saya cukup terasa, kemenangan diganti dengan ketidak kyusukan dalam solat, rasa syukur diganti dengan rasa riya’. Ya ALLAH, saya benar-benar buntu.

    Jalan penyelesaiannya satu! Samaada wajar  saya kuburkan minat saya dalam arena perdebatan ini? Iman dan nafsu bergolak. Moga diri ini diber